Tampilkan postingan dengan label Aqidah Akhlak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah Akhlak. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Januari 2015

Pendidikan Agama Sebagai Mata Pelajaran Wajib Di Sekolah


Penetapan pendidikan agama sebagai mata pelajaran wajib di sekolah merupakan kebijakan yang sangat penting dalam pembangunan nasional indonesia. Mengingat bahwa bangsa indonesia yang berasaskan pancasila dan menjadikan agama sebagai unsur penting dalam pembangunan nasionalnya. Sejak awal kemerdekaan sampai era reformasi seperti sekarang ini pemerintah  menempatkan pendidikan agama sebagai mata pelajaran inti di sekolah-sekolah, baik sekolah negri ataupun swasta.

Pendidikan Agama Sebagai Mata Pelajaran Wajib Di Sekolah
Ilmu Agama Islam
Pendidikan agama merupakan salah satu mata pelajaran yang diharapkan dapat memeberikan kontribusi yang signifikan bagi pencapaian tujuan pendidikan nasional. Yang menjadi salah satu tujuan utama pendidikan nasional seperti tercantum dalam UUSPN adalah pembentukan manusia yang bertaqwa dan berbudi pekerti yang luhur.

Kedua tujuan ini merupakan ciri dan watak yang mendasar dari kepribadian bangsa Indonesia. Kepribadian yang kuat merupakan modal utama bagi setiap anak didik dalam membangun masa depannya serta mampu menghadapi arus besar globalisasi Bimbingan Belajar.

Upaya internalisasi nilai-nilai agama di dalam kehidupan sehari-hari anak didik semakin terasa sangat penting akhir-akhir ini. Berbagai hasil penelitian di sekolah-sekolah dan berbagai fenomena nyata yang banyak kita saksikan sekarang ini menuntut semua stakeholder pendidikan, yaitu guru, orang tua, dan masyarakat untuk lebih keras lagi dalam membina anak-anak penerus bangsa ini.

Tugas dan tanggung jawab atas pendidikan agama di sekolah tidak hanya pada guru agama saja, akan tetapi merupakan tanggung jawab sekolah secara keseluruhan. Lingkungan sekolah harus mendukung dan menjadi laboratorium bagi pengajaran pendidikan agama. Dengan demikian, lingkungan dan proses kehidupan semacam ini bagi para siswa benar-bemar bisa memberikan pendidikan dan pelatihan tentang "bagaimana caranya belajar agama" Les private

Pendidikan agama adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian dan keterampilam peserta didik dalam mengamalkan ajaran agamanya, yang dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui mata pelajaran atau kuliah pada semua jalur, jenjang dan jenis pendidikan Les Privat.

Secara umum tujuan pendidikan agama islam adalah untuk membentuk peserta didik yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia. Kemudian dalam konferensi dunia islam pertama tentang pendidikan islam (1977) berkesimpulan bahwa tujuan umum pendidikan islam adalah " Manusia yang menyerahkan diri kepada Allah secara mutlak (Asyraf, 1989:2). Secara rinci Al-Abrasyi (1977:17) menjelaskan tujuan akhir pendidikan islam adalah :

1. Pembinaan akhlak
2. Menyiapkan anak didik untuk hidup di dunia dan akhirat
3. Penguasaan ilmu
4. Keterampilan bekerja dalam masyarakat.

Berbagai kriteria ini di jadikan sebagai pedoman dalam penjabaran pendidikan Islam.

Selasa, 02 Desember 2014

Penjelasan Tentang Malaikat dan Tugasnya

IMAN KEPADA MALAIKAT


Dari segi Etimologi iman artinya percaya dan membenarkan. Iman berasal dari kata amana-yu’minu imanan. Pengertian secara Terminologi memiliki arti meyakini di dalam hati, mengucapkan dengan lisan (lidah) dan mengaplikasikan dalam perbuatan sehari-hari

Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa iman mencakup tiga aspek, yaitu pembenaran dalam hati, ucapan dengan lisan dan pembuktian dengan amal perbuatan. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Salah satu aspek keimanan yang harus kita jalani adalah iman kepada hal-hal gaib. Di dalamnya termasuk makhluk yang bernama malaikat.

Kata Malaikat adalah jamak dari kata malakun yang artinya utusan. Menurut terminologi malaikat adalah makhluk rohani yang bersifat gaib, diciptakan dari nur, selalu taat, tunduk serta patuh kepada Allah SWT dan tidak pernah ingkar kepadanya. Mereka tidak membutuhkan makan, minum atau tidur. Mereka tidak memiliki keinginan apapun secara fisik, serta menghabiskan waktunya siang dan malam hanya untuk mengabdi kepada Allah SWT.

Beriman kepada malaikat berarti memercayai dengan sepenuh hati bahwa Allah SWT telah menciptakan makhluk bernama malaikat. Mengimani keberadaan malaikat merupakan hal yang sangat penting. Kepercayaan tersebut akan memurnikan amalan umat islam dari segala bentuk kesyirikan.

Secara tersirat, QS Al Baqarah ayat 2-3 memberi penjelasan bahwa beriman kepada malaikat adalah pangkal keimanan kepada wahyu yang diturunkan Allah SWT kepada para rasul-Nya. Hal itu disebabkan, Allah SWT menurunkan wahyu kepada para rasul-Nya melalui perantara Malaikat Jibril.

Demikian pula sebaliknya, jika ada orang yang mendustakan keberadaan malaikat berarti ia telah mendustakan wahyu dan kitab-kitab Allah SWT dan mendustakan risalah para rasul.



Golongan Malaikat    
 
Ditinjau dari kedudukan dan tugasnya, para malaikat dikelompokkan dalam 8 (delapan) golongan :


  • Malaikat Hamalatul 'Arsy, yaitu para malaikat pemikul Arsy. Mereka adalah malaikat yang pertama diciptakan, dan menempati tingkat tertinggi.
  • Malaikat Haffun, yaitu para malaikat yang mengelilingi Arsy.
  • Malaikat Ruhaniyun, adalah kelompok malaikat bangsa ruhani, yang selalu bertasbih dan bertahlil dengan suara keras.
  • Malaikat Karobiyyun, adalah kepala-kepala malaikat yang berada di sekitar 'Arsy.
  • Malaikat Safaroh, adalah para malaikat yang menjadi penghubung antara Allah dengan para nabi dan orang-orang saleh. Tugas mereka adalah melaksanakan perintah-perintah Allah SWT. Selain itu menyampaikan wahyu kepada para nabi dan rosul, dan menyampaikan ilham dan mimpi kepada para nabi dan orang-orang saleh.
  • Yang tergolong dalam malaikat safaroh, ialah Jibril as., Mikail as., Isrofil as., dan Izroil as. 
  • Malaikat Hafadhoh, adalah malaikat yang menjaga manusia. Jumlahnya dua puluh malaikat.
  • Malaikat Katabah, adalah malaikat yang memindahkan ketetapan-ketetapan dari Lauh Mahfudh.
  • Malaikat Zabaniyah, adalah malaikat yang menyiksa orang-orang berdosa. "Kelak kami akan memanggil Malaikat Zabaniyah." (QS. 96/ Al-Alaq: 18)
Nama-nama Malaikat beserta tugasnya masing-masing :
  • Malaikat Jibril bertugas menyampaikan wahyu
  • Malaikat Mikail bertugas memberi rezeki
  • Malaikat Isrofil bertugas meniup sangkakala
  • Malaikat Izroil bertugas mencabut nyawa
  • Malaikat Munkar bertugas bertanya di dalam kubur
  • Malaikat Nakir bertugas  bertanya di dalam kubur
  • malaikat Rokib bertugas mencatat amal baik
  • Malaikat Atid bertugas mencatat amal buruk
  • Malaikat Malik Bertugas menjaga pintu neraka
  • Malaikat Ridwan bertugas menjaga pintu surga

Penjelasan Tentang Rukun Iman

Rukun Iman (bahasa Arabأركان الإيمان) yaitu pilar keimanan dalam Islam yang harus dimiliki seorang muslim. Jumlahnya ada enam. Enam rukun iman ini didasarkan dari ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadits Jibril yang terdapat dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim yang diriwayatkan dari Umar bin Khathab.

Pengertian Iman
Iman menurut bahasa adalah membenarkan. Adapun menurut istilah syari’at yaitu meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lAisan dan membuktikannya dalam amal perbuatan yang terdiri dari tujuh puluh tiga hingga tujuh puluh sembilan cabang. Yang tertinggi adalah ucapan    لاَ اِلَهَ اِلاَّ لله  dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan yang menggangu orang yang sedang berjalan, baik berupa batu, duri, barang bekas, sampah, dan sesuatu yang berbau tak sedap atau semisalnya.
Rasulullah Shallahu’alaihi wa sallam bersabda,
”Iman lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang, paling utamanya perkataan لاَ اِلَهَ اِلاَّ لله dan yang paling rendahnya menyingkirkan gangguan dari jalan, dan malu merupakan cabang dari keimanan”.
Secara pokok iman memiliki enam rukun yaitu :
الإِيْماَنُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَِئكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرَسُلِهِ والْيَوْمِ اْلآخِرِوَتُؤْمِنَ بِالْقَدِرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
”Iman adalah engkau percaya kepada Allah, para malaikatNya, kitab-kitabNya, para rasulNya, hari akhir, dan percaya kepada taqdirNya, yang baik dan yang buruk.

Rukun Iman ada 6, Berikut penjelasannya :
1. Iman Kepada Allah Ta’ala

Iman Kepada Allah adalah keyakinan yang kuat bahwa Allah adalah Rabb dan Raja segala sesuatu, Dialah Yang Mencipta, Yang Memberi Rizki, Yang Menghidupkan, dan Yang Mematikan, hanya Dia yang berhak diibadahi. Kepasrahan, kerendahan diri, ketundukan, dan segala jenis ibadah tidak boleh diberikan kepada selain-Nya, Dia memiliki sifat-sifat kesempurnaan, keagungan, dan kemuliaan, serta Dia bersih dari segala cacat dan kekurangan.

2. Iman Kepada Para Malaikat-Nya

Iman Kepada Malaikat adalah keyakinan yang kuat bahwa Allah memiliki malaikat-malaikat, yang diciptakan dari cahaya. Mereka, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah, adalah hamba-hamba Allah yang dimuliakan. Adapun yang diperintahkan kepada mereka, mereka laksanakan. Mereka bertasbih siang dan malam tanpa berhenti. Mereka melaksanakan tugas masing-masing sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah, sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat mutawatir dari nash-nash Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Jadi, setiap gerakan di langit dan di bumi, berasal dari para malaikat yang ditugasi di sana, sebagai pelaksanaan perintah Allah Azza wa Jalla. Maka, wajib mengimani secara tafshil (terperinci), para malaikat yang namanya disebutkan oleh Allah, adapun yang belum disebutkan namanya, wajib mengimani mereka secara ijmal (global).

3. Iman Kepada Kitab-Kitab

Maksudnya adalah, meyakini dengan sebenarnya bahwa Allah memiliki kitab-kitab yang diturunkan-Nya kepada para nabi dan rasul-Nya, yang benar-benar merupakan Kalam (firman, ucapan)-Nya. Ia adalah cahaya dan petunjuk. Apa yang dikandungnya adalah benar. Tidak ada yang mengetahui jumlahnya selain Allah. Wajib beriman secara ijmal, kecuali yang telah disebutkan namanya oleh Allah, maka wajib baginya mengimaninya secara Tafshil, yaitu Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qur’an. Selain wajib mengimani bahwa Al-Qur’an diturunkan dari sisi Allah, wajib pula mengimani bahwa Allah telah mengucapkannya sebagaimana Dia telah mengucapkan seluruh kitab lain yang diturunkan. Wajib pula melaksanakan berbagai perintah dan kewajiban serta menjauhi berbagai larangan yang terdapat di dalamnya. Al-Qur’an merupakan tolok ukur kebenaran kitab-kitab terdahulu. Hanya Al-Qur’anlah yang dijaga oleh Allah dari pergantian dan perubahan. Al-Qur’an adalah Kalam Allah yang diturunkan, dan bukan makhluk, yang berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya.

4. Iman Kepada Rasul-rasul

Iman kepada rasul-rasul adalah keyakinan yang kuat bahwa Allah telah mengutus para rasul untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya. Kebijaksanaan-Nya telah menetapkan bahwa Dia mengutus para rasul itu kepada manusia untuk memberi kabar gembira dan ancaman kepada mereka. Maka, wajib beriman kepada semua rasul secara Ijmal sebagaimana wajib pula beriman secara tafshil kepada siapa di antara mereka yang disebut namanya oleh Allah, yaitu 25 diantara mereka yang disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur’an. Wajib pula beriman bahwa Allah telah mengutus rasul-rasul dan nabi-nabi selain mereka, yang jumlahnya tidak diketahui oleh selain Allah, dan tidak ada yang mengetahui nama-nama mereka selain Allah Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi. Wajib pula beriman bahwa Muhammad shalalallahu alaihi wa salam adalah yang paling mulia dan penutup para nabi dan rasul, risalahnya meliputi bangsa jin dan manusia, serta tidak ada nabi setelahnya.

5. Iman Kepada Kebangkitan Setelah Mati

Iman kepada kebangkitan setelah mati adalah keyakinan yang kuat tentang adanya negeri akhirat. Di negeri itu Allah akan membalas kebaikan orang-orang yang berbuat baik dan kejahatan orang-orang yang berbuat jahat. Allah mengampuni dosa apapun selain syirik, jika Dia menghendaki. Pengertian Alba’ts (kebangkitan) menurut syar’i adalah dipulihkannya badan dan dimasukkannya kembali nyawa ke dalamnya, sehingga manusia keluar dari kubur seperti belalang-belalang yang bertebaran dalam keadaan hidup dan bersegera mendatangi penyeru. Kita memohon ampunan dan kesejahteraan kepada Allah, baik di dunia maupun di akhirat.

6. Iman Kepada Takdir Yang Baik Maupun Yang Buruk Dari Allah Ta’ala.

Iman kepada takdir adalah meyakini secara sungguh-sungguh bahwa segala kebaikan dan keburukan itu terjadi karena takdir Allah. Allah ta’ala telah mengetahui kadar dan waktu terjadinya segala sesuatu sejak zaman azali, sebelum menciptakan dan mengadakannya dengan kekuasaan dan kehendak-Nya, sesuai dengan apa yang telah diketahui-Nya itu. Allah telah menulisnya pula di dalam Lauh Mahfuzh sebelum menciptakannya.

Minggu, 30 November 2014

Pengertian Qanaah

Qanaah berasal dari kata qāni'a-qanā'atan yang artinya merasa cukup atau rela. Sedangkan menurut istilah adalah sikap rela menerima dan merasa cukup atas apa yang telah dimilikinya serta menjauhkan diri dari sifat tidak puas dan merasa kurang.

Seseorang yang memiliki sikap qanaah akan menerima dengan Ikhlas semua pemberian Allah swt., dan senantiasa berpikir, Allah telah memberikan kenikmatan sesuai ukuran kebutuhan kita. Oleh karena itu, ia akan selalu bersyukur kepada Allah swt.

Sikap qanaah bukan berarti bertindak putus asa dalam mencari rezeki Allah. Manusia harus tetap berusaha Mencari Karunia Allah dengan cara-cara yang baik sesuai dengan kemampuan dan bakatnya. Adapun hasil dari usaha itu harus diterima dengan lapang dada seraya berserah diri kepada Allah swt.

Manfaat Qanaah :
  • Hidupnya selalu merasa lebih tenang dan tentram.
  • Menumbuhkan sikap optimis dalam setiap usaha 
  • Tidak mudah berputus asa.
  • Mampu menjauhkan dari sikap iri
  • Selalu bersyukur kepada Allah

Sifat qanaah tidak membuat orang mudah Putus Asa atas ujian dan cobaan yang diberikan Allah Swt, baik berupa ketakutan, kelaparan, bencana, maupun kekurangan harta benda. Akan tetapi, mereka akan tetap bersabar menerima ujian tersebut dan tidak patah semangat untuk menjalani kehidupannya kembali. Hal ini sebagaimana Firman Allah Swt dalam Al qur`an  surah Al Baqarah:155)

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (١٥٥)

Artinya: “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al Baqarah:155)

Contoh Perilaku Qanaah

Diantara beberapa contoh yang mencerminkan sifat qanaah adalah sebagai berikut :
  • Menerima dengan ikhlas setiap rezeki yang diberikan Allah Swt.
  • Senantiasa berpikir positif menerima ujian, cobaan, kegagalan, bahkan nikmat dari Allah Swt.
  • Bekerja keras dan tetap optimis.
  • Tidak berlebih-lebihan artinya membelanjakan harta sesuai kebutuhan.



Pengertian Kalimat Istirja atau Tarji'


Kalimat istirja’ berbunyi “inna lillahi wa inna illahi raji’un”. kalimat tersebut mempunyai arti “Sesungguhnya kita milik Allah dan hanya kepada-Nya kita kembali”. Maksudnya bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta ini adalah milik dan ciptaan Allah, maka kelak semuanya akan kembali kepada yang menciptakan dan yang memiliki yakni Allah swt.
Kalimat istirja bisa di ucapkan pda saat seseorang sedang tertimpah musibah atau cobaan. misalnya, pada saat salah seorang diantara kita meninggal dunia atau terkena bencana, seperti tsunami, tanah longsor, banjir, terpeleset, atau hal-hal lainya.

Sesungguhnya setiap musibah yang menimpah manusia disebabkan oleh ulah manusia itu sendiri. Musibah tersebut ditimpahkan oleh Allah sebagai peringatan agar manusia itu kembali ke jalan yang benar. Bahkan jika semua kesalahan manusia dibalas langsung oleh Allah dengan musibah, bisa jadi seumur hidupnya manusia dicerca dengan berbagai musibah. Hanya saja banyak kesalahan manusia itu yang diampuni oleh Allah swt, sehingga musibah yang menimpah manusia tidak terlalu banyak.

Sebagaimana dalam Al-qur'an surat Al-Baqarah ayat 156, yang Artinya :

" (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" (Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali)." (Al-Baqarah 2:156)

Bacaan tersebut dikenal dengan sebutan bacaan "istirja" atau "tarji". Istirja' merupakan frase umat Islam apabila seseorang tertimpa musibah dan biasanya diucapkan apabila menerima kabar duka cita seseorang. Umat Islam meyakini bahwa Allah adalah Esa yang memberikan dan Dia jugalah yang mengambil, Dia menguji umat manusia. Oleh karenanya, umat Islam menyerahkan diri kepada Tuhan dan bersyukur kepada Tuhan atas segala yang mereka terima. Pada masa yang sama, mereka bersabar dan menyebut ungkapan ini saat menerima cobaan atau musibah. Kemudian dalam syariat Islam, jika seorang Muslim ditimpa musibah, kemudia ia bersabar dan mengucapkan kalimat istirja' maka Allah akan memberikan pahala.

Penjelasan Ikhtiar dan Contohnya


Pengertian Ikhtiar :

Penjelasan Ikhtiar dan Contohnya
Ikhtiar
Ikhtiar berasal dari Bahasa Arab (إخْتِيَارٌ) yang berarti mencari hasil yang lebih baik. Adapun secara istilah, pengertian ikhtiar yaitu  usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan dalam hidupnya, baik material, spiritual, kesehatan, dan masa depannya agar tujuan hidupnya selamat sejahtera dunia dan akhirat terpenuhi. Maka, segala sesuatu baru bisa dipandang sebagai ikhtiar yang benar jika di dalamnya mengandung unsur kebaikan. Tentu saja, yang dimaksud kebaikan adalah menurut syari’at Islam, bukan semata akal, adat, atau pendapat umum. Dengan sendirinya, ikhtiar lebih tepat diartikan sebagai “Memilih yang baik-baik”, yakni segala sesuatu yang selaras tuntunan Allah dan Rasul-Nya. 


Ikhtiar juga dilakukan dengan sungguh-sungguh, sepenuh hati, dan semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan dan keterampilannya. Akan tetapi, jika usaha kita gagal, hendaknya kita Tidak Berputus Asa. Kita sebaiknya mencoba lagi dengan lebih keras dan tidak berputus asa. Kegagalan dalam suatu usaha, antara lain disebabkan keterbatasan dan kekurangan yang terdapat dalam diri manusia itu sendiri. Apabila gagal dalam suatu usaha, setiap muslim dianjurkan untuk bersabar karena orang yang sabar tidak akan gelisah dan berkeluh kesah atau berputus asa. Agar ikhtiar atau usaha kita dapat berhasil dan sukses, hendaknya melandasi usaha tersebut dengan niat ikhlas untuk mendapat ridha Allah, berdoa dengan senantiasa mengikuti perintah Allah yang diiringi dengan perbuatan baik, bidang usaha yang akan dilakukan harus dikuasai dengan mengadakan penelitian atau riset, selalu berhati-hati mencari teman (mitra) yang mendukung usaha tersebut, serta memunculkan perbaikan-perbaikan dalam manajemen yang Professional.


Sebagaimana Al-Qur'an menjelaskan :


إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ   ( سورة الرعد:11) 
Artinya : … Sesungguhnya allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri … ( QS. Ar-Ra’du 11 )
 Manfaat Ikhtiar
Seorang muslim yang senantiasa berikhtiar akan memiliki Dampak Positif, di antaranya sebagai berikut :
  • Merasakan kepuasan bathin, karena telah berusaha dengan sekuat tenaga dan kemampuanya yang di miliki.
  • Terhormat di hadapan allah dan sesama manusia.
  • Dapat berhemat karena merasakan susahnya bekerja.
  • Tidak mudah berputus asa.
  • Menghargai jerih payahnya dan jerih payah orang lain.
  • Tidak menggantungkan orang lain dalam hidupnya.
  • Menyelamatkan akidahnya, karena tidak ( bebas ) bertawakal kepada makhluk.

Pengertian Tawakal


Pengertian Tawakal
Tawakal

Tawakal menurut bahasa arab " At Tawakul " yang di bentuk dari kata " Wakala ", artinya menyerahkan, mempercayai, atau mewakilkan, bersandar kepada dinding. Jadi pengertian Tawakal secara istilah adalah rasa pasrah hamba kepada allah swt yang di sertai dengan segala daya dan upaya mematuhi, setia dan menunaikan segala pertintah-Nya. Orang yang mempunyai  sikap tawakal akan senantiasa bersyukur jika mendapatkan suatu keberhasilan dari usahanya. Hal ini karena ia menyadari bahwa keberhasilan itu di dapatkan atas izin dan kehendak Allah. Sementara itu, jika mengalami kegagalan orang yang mempunyai sifat tawakal akan senantiasa merasa ikhlas menerima keadaan tersebut tanpa merasa putus asa dan larut dalam kesedihan karena ia menyadari bahwa segala keputusan Allah pastilah terbaik.

Hadis yang Terkait dengan Tawakal


Imam Ibnu Rajab berkata : ” Hakekat tawakal adalah hati benar – benar bergantung kepada Allah SWT guna memperoleh maslahat dan menolak madharat dari urusan dunia dan akherat dan menyerahkan semua urusankepada-Nya.” ( Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 588, hadist no. 49 ).
Syaikh Ibnu Utsaimin berkata : ” Tawakal adalah menyandarkan permasalahan kepada Allah dalam mengupayakan yang dicari dan menolak apa – apa yang tidak disenangi disertai percaya penuh kepada Allah dan menempuh sebab yang diizinkan syariat.”
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa tawakal mempunyai dua syarat:
  • Penyandaran tawakal kepada Allah dengan sebenar – benarnya.
  • Harus menempuh sebab yang diizinkan syarat

Tingkatan Tawakal
Menurut Al-Ghazali, di dalam penerapannya.tawakal terdiri atas tiga tingkatan:
  • Tingkatan bidayah
  • Yaitu hati senantiasa Tentram terhadap apa yang dijanjikan atau yang di tentukan allah swt
  • Tingkatan taslim
  • Yaitu menyerahkan semua urusan kepada allah swt, karena dialah yang mengetahui segala sesuatu mengenai diri dan keadaannya.
  • Tingkatan tafwid
  • Yaitu rela dan ridha menerima segala ketentuan allah swt, bagaimanapun bentuk dan keadaannya
Dampak Positif Tawakal
  • Perwujudan dari keimanan dan kepasrahan kepada Allah SWT.
  • Mendukung usaha perdamaian antar sesama manusia.
  • Menguatkan jiwa dalam menghadapi permasalahan hidup.
  • Mendatangkan ketenangan jiwa.
  • Menumbuhkan kesadaran bahwa sesuatu kembali kepada Allah.
  • Mendatangkan kepuasan batin

Hikmah Tawakal

  • Selalu berada dalam ketenangan,ketentraman, dan kegembiraan.
  • Jika ia memperoleh nikmat dan karunia dari allah swt,ia akan bersyukur.
  • Jika ia memperoleh suatu musibah ia akan tetap bersabar.
  • Selalu menyerahkan semua keputusan bahkan dirinya sendiri hanya kepada allah swt.

Jumat, 28 November 2014

Pengertian Akhlak Terpuji dan Macamnya

Akhlak Secara Etimologi, Menurut pendekatan etimologi, perkataan “akhlak” berasal dari bahasa Arab jama’ dari bentuk mufradnya “Khuluqun” yang menurut logat diartikan: budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Kalimat tersebut mengandung segi-segi persesuain dengan perkataan “Khalkun” yang berarti kejadian, serta erat hubungan ” Khaliq” yang berarti Pencipta dan “Makhluk” yang berarti yang diciptakan.
Pengertian Akhlak adalah kebiasaan kehendak itu bila membiasakan sesuatu maka kebiasaannya itu disebut akhlak .Jadi pemahaman akhlak adalah seseorang yang mengerti benar akan kebiasaan perilaku yang diamalkan dalam pergaulan semata – mata taat kepada Allah dan tunduk kepada-Nya. Oleh karena itu seseorang yang sudah memahami akhlak maka dalam bertingkah laku akan timbul dari hasil perpaduan antara hati nurani, pikiran, perasaan, bawaan dan kebiasaan dan yang menyatu, membentuk suatu kesatuan tindakan akhlak yang dihayati dalam kenyataan hidup keseharian.
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar kata akhlaq. Akhlaq disini sebagai tata atau norma dalam berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu seseorang yang sudah memahami akhlak maka dalam bertingkah laku akan timbul dari hasil perpaduan antara hati nurani, pikiran, perasaan, bawaan dan kebiasaan dan yang menyatu, membentuk suatu kesatuan tindakan akhlak yang dihayati dalam kenyataan hidup keseharian.

Macam-macam Akhlak

Akhlaq secara umum terbagi kepada 2 bagian, yaitu :
          Yaitu sikap, tingkah laku perbuatan, perkataan dan gerak hati yang dapat menarik              kecintaan Allah dan makhluknya.
          Yaitu sikap, tingkah laku perbuatan, perkataan dan gerak hati yang dapat                              menyebabkan kemarahan dan kemurkaan Allah dan makhluknya.

Berikut ini adalah macam-macam akhlak terpuji :
  • Shiddiq (benar atau jujur) 
  • Al-manah (menyampaikan atau terbuka) 
  • Tabligh (menyampaikan atau terbuka) 
  • Fathana (cerdas dan cakap) 
  • Istiqamah (teguh pendirian) 
  • Ikhlas berbuat atau beramal 
  • Syukur (menerima baik) 
  • Sabar (teguh) 
  • Iffah (perwira) 
  • Tawadhu’, adalah sikap sabar yang tertanam dalam jiwa untuk dapat mengendalikan hawa nafsu. 
  • Syaja’ (berani) 
  • Hikmah (bijaksana) 
  • Tasamuh (toleransi) 
  • Lapang dada 
  • Adil 
  • Qana’ah 
  • Intiqad atau mawas diri 
  • Al-Afwu atau pemaaf 
  • Anisatun atau bermuka manis 
  • Khusyu’ atau tenang dala beribadah 
  • Wara’, adalah sikap batin yang tertanam dalam jiwa yang selalu menjaga dan waspada dari segala bentuk perbuatan yang mungkin mendatangkan dosa, baik itu dosa kecil atau dosa besar. 
  • Belas kasihan 
  • Beriman kepada Allah 
  • Ta’awun atau tolong menolong 
  • Tadarru atau merendah 
  • Shalihah (shaleh) 
  • Sakhaa’ (pemurah) 
  • Nadhief (bersih) 
  • Ihsan 
  • Uswatun hasanah (teladan yang baik)