Kamis, 13 November 2014

Masa Pendudukan Jepang di Indonesia



Masa Pendudukan Jepang di Indonesia
pejuang


Masa pendudukan Jepang merupakan periode yang penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Pendudukan Jepang di Indonesia ditujukan untuk mewujudkan Persemakmuran Bersama Asia Timur Raya. Untuk mewujudkan cita-cita itu, Jepang menyerbu pangkalan Angkatan Laut di Pearl Harbour, Hawai. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 7 Desember 1941. Gerakan invasi militer Jepang cepat merambah ke kawasan Asia Tenggara. Pada bulan Januari-Februari 1942, Jepang menduduki Filipina, Tarakan (Kalimantan Timur), Balikpapan, Pontianak, dan Samarinda. Pada bulan Februari 1942 Jepang berhasil menguasai Palembang. Untuk menghadapi Jepang, Sekutu membentuk Komando gabungan. Komando itu bernama ABDACOM (American British Dutch Australian Command). ABDACOM dipimpin oleh Jenderal Sir Archibald Wavell dan berpusat di Bandung. Pada tanggal 1 Maret 1942 Jepang berhasil mendarat di Jawa yaitu Teluk Banten, di Eretan (Jawa Barat), dan di Kragan (Jawa Timur). Pada tanggal 5 Maret 1942 kota Batavia jatuh ke tangan Jepang. Akhirnya pada tanggal 8 Maret 1942 Belanda secara resmi menyerah kepada Jepang.


Organisasi Bentukan Jepang


Pasukan Jepang selalu berusaha untuk dapat memikat hati rakyat Indonesia. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar bangsa Indonesia memberi bantuan kepada pasukan Jepang. Untuk menarik simpati bangsa Indonesia maka dibentuklah orgunisasi resmi seperti Gerakan Tiga A, Putera, dan PETAGerakan Tiga A, yaitu Nippon Pelindung Asia, Nippon Cahaya Asia, Nippon Pemimpin Asia. Gerakan ini dipimpin oleh Syamsuddin SH. Namun dalam perkembangan selanjutnya gerakan ini tidak dapat menarik simpati rakyat, sehingga pada tahun 1943 Gerakan Tiga A dibubarkan dan diganti dengan Putera. Pusat Tenaga Rakyat (Putera) Organisasi ini dibentuk pada tahun 1943 di bawah pimpinan "Empat Serangkai", yaitu Bung Karno, Bung Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan Kiyai Haji Mas Mansyur. Gerakan Putera ini pun diharapkan dapat menarik perhatian bangsa Indonesia agar membantu pasukan Jepang dalam setiap peperangan yang dilakukannya. Akan tetapi gerakan Putera yang merupakan bentukan Jepang ini ternyata menjadi bume-rang bagi Jepang. Hal ini disebabkan oleh anggota-anggota dari Putera yang memiliki sifat nasionalisme yang tinggi.




Propaganda anti-Sekutu yang selalu didengung-dengungkan oleh pasukan Jepang kepada bangsa Indonesia ternyata tidak membawa hasil seperti yang diinginkan. Propaganda anti Sekutu itu sama halnya dengan anti Imperialisme. Padahal Jepang termasuk negara imperialisme, maka secara tidak langsung juga anti terhadap kehadiran Jepang di bumi Indonesia. Di pihak lain, ada segi positif selama masa pendudukan Jepang di Indonesia, seperti berlangsungnya proses Indonesianisasi dalam banyak hal, di antaranya bahasa Indonesia dijadikan bahasa resmi, nama-nama di- indonesiakan, kedudukan seperti pegawai tinggi sudah dapat dijabat oleh orang-orang Indonesia dan sebagainya. Pembela Tanah Air (PETA) PETA merupakan organisasi bentukan Jepang dengan keanggotaannya terdiri atas pemuda-pemuda Indonesia. Dalam organisasi PETA ini para pemuda bangsa Indonesia dididik atau dilatih kemiliteran oleh pasukan Jepang. Pemuda-pemuda inilah yang menjadi tiang utama perjuangan kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia.


Kebijakan Jepang terhadap rakyat Indonesia pada prinsipnya diprioritaskan pada dua hal, yaitu:


  1. menghapus pengaruh-pengaruh Barat di kalangan rakyat Indonesia, dan
  2. memobilisasi rakyat Indonesia demi kemenangan Jepang dalam Perang Asia Timur Raya.


Sadar bahwa posisinya dalam menghadapi Perang Asia Timur Raya, pemerintah Bala Tentara Jepang berusaha untuk  menarik simpati bangsa Indonesia dengan berbagai cara :
  • mengklaim dirinya sebagai saudara tua bangsa Indonesia yang datang untuk melepaskan bangsa Indonesia dari cengkeraman penjajahan Belanda
  • memperdengarkan lagu Indonesia Raya dengan intensitas yang sering pada siaran radio Tokyo
  • membebaskan para tokoh pemimpin bangsa Indonesia yang diasingkan oleh Belanda, seperti ; Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta
  • melakukan propaganda Gerakan Tiga A, yang meliputi :
          a.  Jepang/Nipon Cahaya Asia
          b.  Jepang/Nipon Pelindung Asia
          c.  Jepang/Nipon Pemimpin Asia                                   

  • melarang penggunaan bahasa Belanda dan mengizinkan penggunaan bahasa Indonesia dalam percakapan resmi
Berbagai tindakan pemerintahan bala tentara Jepang sangat menyengsarakan bangsa Indonesia:

a. Pemerasan Sumber Daya Alam

    Cara-cara Jepang untuk mengeruk kekayaan alam / bahan mentah guna kepentingan              industri perang diantaranya :

  • semua harta peninggalan Belanda di Indonesia di sita
  • melakukan monopoli penjualan hasil perkebunan
  • melancarkan kampanye pengerahan barang-barang dan menambah bahan pangan secara besar besaran
  • tanaman perkebunan yang tidak berguna dimusnahkan dan diganti dengan tanaman pangan
  • rakyat hanya boleh memiliki 40 % dari hasil panen, sedangkan yang 60 % harus diserahkan kepada Jepang
  • rakyat dibebani tambahan untuk menanam pohon jarak sebagai bahan minyak pelumas senjata dan mesin perang.
b.  Pemerasan Sumbar Daya Manusia
     Untuk memanfaatkan tenaga bangsa Indonesia dalam membantu  kepentingan Jepang           dalam Perang Asia Timur Raya, pemerintah bala tentara Jepang melaksanakan :
  • Romusha
         Bentuk kerja paksa seperti halnya pada masa pemerintahan Hindia Belanda  (Kerja            Rodi) juga terjadi pada masa pendudukan bala tentara Jepang, yang disebut dengan                Romusha. Para tenaga kerja paksa ini dipaksa sebagai tenaga pengangkut bahan                      tambang (batu bara) , pembuatan rel kereta api serta mengangkut hasil hasil                              perkebunan.Tidak terhitung berapa ratus ribu bahkan jutaan rakyat Indonesia yang                menjadi korban romusha. Untuk menarik simpati bangsa Indonesia terhadap                            Romusha, Jepang menyebut romusha sebagai “Pahlawan Pekerja/Prajurit                        Ekonomi” 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar